Coba bayangkan jika Anda sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan yang berkelok. Kecepatan tinggi itu memberikan Anda tambahan dorongan adrenalin. Akan tetapi, jika ada satu kesalahan kecil, maka bisa berakibat fatal bagi keselamatan Anda, mobil Anda, dan juga orang atau area di sekitar Anda. Begitulah kira-kira yang terjadi ketika seorang pemimpin menunjukkan sifat-sifat dari Dark Triad: ada kekuatan besar, tetapi selalu dibarengi dengan risiko besar, apalagi jika tidak dikendalikan dengan benar. Bisa berakibat fatal.
Bagi banyak orang, mendengar istilah Dark Triad mungkin terasa asing, tetapi sebenarnya kita sering melihatnya di dunia nyata. Menurut Psychology Today, Dark Triad merujuk pada tiga sifat kepribadian yang biasanya dianggap negatif: narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati subklinis. Meskipun terdengar mengerikan, beberapa pemimpin sukses justru menunjukkan sifat-sifat ini dalam perilaku mereka. Tapi apakah ini berarti sifat-sifat tersebut baik untuk kepemimpinan?
Sejujurnya, saya ragu, saya tidak suka, tapi di sisi lain saya penasaran juga. Mengapa sifat kepribadian seperti ini seperti secara tidak sadar melekat pada kebanyakan leaders?

1. Narsisme: Antara Percaya Diri dan Ego Berlebih
Narsisme biasanya dihubungkan dengan kepercayaan diri yang tinggi, bahkan berlebihan. Pemimpin yang narsistik ingin menjadi pusat perhatian dan sering merasa dirinya istimewa. Hal positifnya adalah ini bisa menjadi kekuatan ketika mereka menghadapi tantangan besar karena ini memberikqn mereka kepercayaan diri agar dapat mengatasinya.
Namun, seperti mobil yang melaju terlalu cepat tadi, kepercayaan diri yang berlebihan justru dapat membuat pemimpin narsistik menolak mendengarkan masukan dari orang lain. Mereka mungkin lebih fokus pada prestasi pribadi daripada kesuksesan tim. Dalam jangka panjang, sikap ini dapat merusak hubungan di tempat kerja dan membuat karyawan merasa tidak dihargai. Padahal aset terbaik sebuah perusahaan adalah karyawan-karyawan mereka. Dan tugas seorang pemimpin adalah menjaga aset perusahaan dengan baik? Terdengar seperti paradoks bukan?
2. Machiavellianisme: Keahlian dalam Bermain Strategi
Sifat kedua dari Dark Triad adalah Machiavellianisme, di mana seseorang cenderung manipulatif dan sangat strategis. Pemimpin dengan sifat ini seringkali mampu mengelola hubungan dan membuat strategi yang menguntungkan mereka dan organisasinya. Mereka pandai membaca situasi dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan.
Namun, apabila terlalu fokus pada strategi tanpa memperhatikan etika dapat menciptakan suasana yang tidak sehat dalam organisasi.
Ada perbedaan mendasar antara seorang yang benar-benar brilian dalam strategi dan seseorang yang manipulatif. Seorang yang pintar dalam strategi, pasti akan memikirkan segala aspek, termasuk karyawan atau anggota timnya. Karena mereka adalah aset terbaik perusahaan. Sedangkan pemimpin yang manipulatif mungkin tidak akan segan-segan mengorbankan orang lain untuk mencapai kesuksesan, yang pada akhirnya merusak kepercayaan dalam tim.
Ada fine-line di antara kedua ini. Mungkin akan agak sulit membedakannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Psikopati Subklinis: Ketangguhan yang Berbahaya
Yang ketiga adalah psikopati subklinis, istilah yang "sangat psikologi" untuk saya yang awam. Namun kira-kira sifat ini berarti pemimpin yang memiliki sifat psikopati—memang tidak sampai di level yang dianggap berbahaya secara klinis, tetapi mereka memang terbukti kurang memiliki empati. Di sisi lain, mereka sangat mampu untuk mengambil risiko yang tinggi. Pemimpin dengan sifat ini bisa tetap tenang di bawah tekanan, membuat mereka terlihat tangguh dan tegas saat menghadapi krisis.
Namun, di balik ketangguhan tersebut, kurangnya empati sering menjadi masalah besar. Mereka mungkin tidak peduli dengan dampak dari keputusan yang mereka ambil terhadap orang lain, yang bisa membuat mereka terlihat dingin dan seolah tidak peduli. Akibatnya, moral karyawan bisa turun, dan hubungan interpersonal dalam tim menjadi renggang.
Menurut saya, kadang di waktu-waktu yang tenang, ketika semuanya berjalan seperti biasa, sifat psikopati subklinis ini tidak tampak. Namun pada saat genting seperti saat proses efisiensi karyawan (layoff) atau saat mengambil keputusan genting, sifat ini bisa muncul dan menyeruak. Terlihat secara gamblang tanpa harus dipaksa.
Ketangguhan, di saat yang sama, bisa jadi terasa kejam. Tergantung dari perspektif mana Anda melihatnya.

Peran Empati dan Etika dalam Kepemimpinan
Meskipun sifat-sifat Dark Triad bisa tampak menarik dalam situasi tertentu, terutama saat dibutuhkan ketegasan dan kecepatan, empati dan etika tetap menjadi fondasi dari kepemimpinan yang baik. Seorang pemimpin yang tidak peduli dengan perasaan timnya mungkin bisa mencapai tujuan jangka pendek, tapi dalam jangka panjang, mereka bisa kehilangan dukungan dan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
Empati membantu pemimpin memahami kebutuhan tim mereka, sementara etika memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat. Dengan menggabungkan empati dan etika, pemimpin dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif dan penuh dukungan, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan loyalitas karyawan.
Bisakah Dark Triad Dikendalikan?

Jadi, apakah mungkin untuk mengendalikan sifat-sifat Dark Triad ini dan menggunakannya untuk kebaikan? Jawabannya adalah, ya—dengan syarat bahwa sifat-sifat ini harus selalu diimbangi dengan kesadaran diri dan disiplin. Sebelum ingin memiliki sifat ini, latih diri dengan cara memenuhi hati dan pikiran Anda dengan empati dan juga etika.
Seperti mengendalikan mobil Formula 1, Anda harus tahu batasan dan mampu menguasai diri agar tidak celaka dalam mengendalikan mobil dengan kekuatan yang luar biasa.
- Narsisme bisa dikelola dengan menerima feedback secara terbuka dan mengutamakan kolaborasi daripada pencapaian pribadi.
- Machiavellianisme dapat dikendalikan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai etika dan membuat strategi yang menguntungkan semua pihak, bukan hanya diri sendiri.
- Psikopati subklinis dapat diseimbangkan dengan belajar memahami dampak emosi dan keputusan terhadap tim, meskipun seorang pemimpin tidak secara alami merasa empati.
Kunci keberhasilannya adalah kesadaran diri—mengerti kapan sifat-sifat ini muncul dan kapan mereka perlu ditahan. Pemimpin yang bijaksana tahu kapan harus tegas dan kapan harus mendengarkan. Sifat-sifat Dark Triad ini bisa menjadi alat yang ampuh jika dikendalikan dengan hati-hati dan diimbangi dengan nilai-nilai empati dan etika yang kuat.
Kepemimpinan yang terbaik bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga bagaimana cara mencapai hasil tersebut, sambil menjaga tim tetap termotivasi dan bahagia.
Diskusi anggota